Puasa: Antara Ritualitas dan Spiritualitas

Medan l Batubara.Redaksisatu.Id.

Marhaban ya Ramadhan

Ramadhan segera tiba, suatu bulan yang akan mendorong ritualitas umat Islam berada pada puncaknya. Masjid-Masjid akan penuh oleh semarak umat yang beribadah. Di sore hari akan banyak “penjaja dan raja” bertransaksi makanan berbuka puasa. Di mata yang berpuasa berbagai jenis makanan dan minuman itu, akan lebih nikmat di banding bulan-bulan lainnya.

Ramadhan adalah bulan yang istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Ada beragam tradisi untuk menyambutnya. Satu diantaranya adalah ritual ziarah kubur ke makam keluarga. Menaburkan bunga, menyiramkan air sambil bershalawat ditambah dengan bacaan ayat-ayat Alquran dan doa. Ritual itu sudah seperti wajib di keluarga kami. Rasanya ada yang tidak lengkap, menjalani Ibadah Puasa Ramadhan tanpa dimulai ziarah kubur.

Begitu pula dengan banyak keluarga lain. Menjelang Puasa Ramadhan adalah waktunya pemakaman ramai dikunjungi. Masing-masing keluarga menziarahi makam anggota keluarganya yang telah mendahuluinya. Anggota keluarga yang sudah berpindah dari alam dunia ke alam kubur. Dari alam fisik ke alam metafisika. Dalam pandangan keluarga yang berziarah, kematian anggota keluarganya dalam konteks raga (tubuh), sementara jiwanya masih hidup. Jiwa yang masih terhubung dan membutuhkan dukungan anggota keluarga lainnya, terutama anak-anaknya yang sholeh untuk terus mendoakannya. Itu dipercaya akan menambah pahala yang menjadi bekal baginya di hari perhitungan nantinya menuju surga.

Ritual lainnya yang sudah menjadi tradisi dalam menyambut bulan Puasa Ramadhan adalah “punggahan”. Tradisi yang berakar dari masyarakat Jawa yang secara spritualitas bermakna untuk mempersiapkan diri berpuasa satu bulan lamanya tanpa henti yang dilakukan melalui membersihkan diri dan makan bersama dengan keluarga. Punggahan kini sudah menjadi tradisi yang menasional yang dilakukan oleh lintas etnik dan keluarga yang ditandai dengan doa dan makan bersama. Bisa dengan keluarga bisa pula dengan rekan sejawat.

Bagi masyarakat dari etnis Angkola Mandailing ada tradisi “Marpangir” (mandi harum) sejenis dengan mandi kembang menjelang berpuasa. Beberapa jenis dedaunan dan rempah seperti daun pandan, dan dan buah jeruk purut, serai dan lainnya direbus yang airnya digunakan untuk mandi. Di beberapa daerah ada yang melakukannya bersama di sungai yang memiliki kemiripan dengan tradisi Hindu di India yang menyucikan diri di Sungai Gangga.

Banyak ritual menyambut bulan Puasa yang sudah menjadi tradisi di masyarakat Indonesia yang multikultur. Hal ini menunjukkan bagaimana ajaran agama diserap dan diberikan pemaknaan secara kebudayaan yang bersifat menguatkan. Berpuasa pada akhirnya dimaknai tidak hanya menahan diri dari aktivitas yang membatalkannya tetapi juga berbagai sebab yang bisa mendisrupsi nilainya. Sebuah proses yang dilihat sebagai “perang suci” melawan hawa nafsu untuk mencapai tingkat kebaruan atau menjadi orang baru yang keberhasilan mencapainya akan dirayakan nantinya dengan kegembiraan dan suka cita.

Orang baru yang seperti apa yang akan dituju? Orang yang secara pemikiran mengalami pencerahan, secara sikap dipenuhi dengan kebijaksanaan dan nilai kemanusiaan dan secara perilaku menyebarkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Mengapa itu belum terwujud di Indonesia sebagai bangsa? Di bulan Ramadhan ini selain berpuasa sebaiknya kita sebagai pemimpin atau kita sebagai rakyat juga merefleksi diri apakah ritualitas yang kita laksanakan nir spritualitas?

Selamat Berpuasa!!!

Dr. Saruhum Rambe, S.Sos., M.Si.,
Antropolog dan Sekretaris PUI Etnografik Research Center (ERC) USU.

Trending Topic

Etnografi Reflektif

Etnografi Budaya Hewan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

[democracy id="2"]

Related news