Oleh: Dr. Saruhum Rambe, S.Sos., M.Si.
Metode etnografi berkembang dan terspesialisasi. Banyak ragamnya. Ada etnografi multi spesies, ada pula etnografi multi situs. Jika yang pertama berorientasi subjek, sementara yang kedua berfokus pada lokasi penelitiannya. Keduanya didasarkan atas paradigma dan pendekatan yang berbeda untuk tujuan yang sama : pembaruan.
Melangkah dari cara berpikir modernisme ke posmo dalam melihat, memahami dan memperlakukan subjek dan lokasi termasuk ruang (space). Bergerak dari memperlakukan satu ruang kebudayaan dengan batas-batas yang jelas, dimana etnografer berbaur (immerse) di dalamnya dalam waktu yang lama. Satu contoh fonemenal adalah apa dan bagaimana Malinowski melakukannya di satu komunitas di Kepulauan Trobriand, Ia menghasilkan karya penting, diantaranya “Argonauts of the Western Pacific” dan berkontribusi besar terhadap metode etnografi.
Ia datang dari negeri yang jaraknya ribuan kilometer dengan kebudayaan dan peradaban yang berbeda. Ia berasal dari budaya dan peradaban Barat ke satu komunitas yang terisolasi (the others) untuk melakukan penelitian lapangan yang intensif dan mendalam. Ia mempelajari sistem kula dan struktur sosial masyarakat Trobriand yang didasarkan atas asumsi bahwa komunitas tersebut tidak terhubung atau dipengaruhi oleh kebudayaan secara global.
Asumsi atas ketidakterhubungan ini yang ditolak oleh etnografer kontemporer..Anna Tsing, seorang antropolog terkenal menjelaskan bahwa masyarakat terasing di pedalaman Kalimantan terhubung dengan realitas global dalam bukunya “Friction : An Ethnography of Global Connection”. Tsing menggunakan metafora ” Friction” untuk menjelaskan bagaimana hubungan lokal-global terbentuk melalui interaksi sosial yang beragam dan seringkali konfliktual. Realitas yang terjadi ketika ide dan gerakan global berinteraksi dengan konteks lokal.
Espig & Rijke dalam artikelnya berjudul “Energy, Anthropology and Ethnography: On the Challenges of Studying Unconventional Gas Developments in Australia” melihat keterhubungan itu tidak hanya ke atas tetapi juga ke samping. Lebih jauh dari itu, penelitian etnografi tentang energi telah mendorong mereka untuk meninjau kembali konsep tradisional tentang ‘lokasi lapangan’ serta mempertimbangkan keterkaitan global, metode, posisi peneliti, etika, dan politik representasi.
Kedua peneliti menggambarkan secara reflektif berbagai tantangan dalam melaksanakan risetnya. Tantangan tersebut meliputi penandaan batas lapangan etnografi, memperoleh akses riset, menjaga sikap yang tepat, serta menangani pertimbangan etis. Diantaranya dalam mempertimbangkan politik representasi ketika terdapat beragam, dan terkadang bertentangan dengan perspektif lokal dalam memandang proyek energi tersebut.
Pengalaman saya melakukan studi etnografi di proyek PLTA Asahan 3, menghadapi tantangan yang relatif sama seperti yang dialami oleh Espig & Rijke. Lokasi proyek berada dalam batas-batas etnografi yang jelas, tetapi multi aktor yang menjadi subjek penelitian tidak dibatasi oleh batas administratif tersebut. Sehingga lokasi penelitian tidak terbatas di lokasi proyek, tetapi meluas “ke samping” dan “ke atas” sesuai dengan keberadaan aktor (multi situs). Memperoleh akses riset tidak menjadi masalah karena saya berada di dalam atau bagian dari proyek, dan tantangan terberatnya adalah menjaga sikap yang tepat dan menangani pertimbangan etis.
Saya berhadapan dengan cara pandang yang tidak saja beragam tetapi bertentangan seperti yang disebut oleh Espig & Rijke. Cara pandang itu tidak saja warga lokal memandang proyek, dan pelaku pembangunan memandang warga lokal. Tetapi juga diantara warga lokal dan diantara pelaku pembangunan juga memiliki cara pandang yang beragam dan bertentangan. Masing-masing membangun narasi untuk memperkuat atau membenarkan posisi dan sikapnya sekaligus mendelegitimasi pihak lainnya yang berbeda posisi dengannya.
Warga lokal berstrategi untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dengan mengontrol akses secara spektakuler. Sementara pelaku pembangunan berusaha mengelola dinamika sosial dengan berbagai narasi gagasan, teknik dan taktik untuk membentuk subjek yang patuh. Relasi kuasa yang akhirnya membentuk adaptasi yang pragmatis oleh para pihak.
Bagaimana sikap saya sebagai peneliti dalam kompleksitas dinamika seperti itu? “Saya menari di dalam hujan”.

