Etnografi Budaya Hewan

Oleh: Dr. Saruhum Rambe, S.Sos., M.Si.

Metode etnografi terus berkembang seperti halnya kebudayaan yang menjadi subjek kajiannya. Diantaranya melampaui manusia dan kebudayaannya, yakni mengkaji tentang kebudayaan hewan.

Sebenarnya manusia juga adalah bagian dari spesies hewan. Hanya saja, manusia yang merasa derajatnya lebih tinggi dan mulia memberikan definisi dan citra diri sebagai jenis hewan yang bisa berpikir, berbudaya dan bersosialisasi dengan sesamanya. Satu kemampuan yang diklaim hanya menjadi keistimewaan manusia yang tak dimiliki oleh mahluk lain seperti hewan. Selanjutnya menjadi legitimasi untuk mendominasi dan mengakumulasi apapin yang ada di alam untuk kepentingan manusia. Suatu perspektif antrocentrisme yang berdampak pada eksploitasi dan kehancuran alam. Sementara secara historis, perspektif kolonialisme dan etnosentrisme bahwa yang benar-benar manusia itu adalah orang yang berkulit putih. Fenomena yang berimplikasi pads superioritas dan inferioritas. Edward Said mengungkap fenomena ini dalam bukunya “Orientalisme”.

Begitulah perspektif keilmuan juga berkembang walaupun tidak otomatis cara pandang yang lama. Secara ekologis, muncul kritikan atas paham antropocentris dan mendasari lahirnya konsep deep ecology yang melihat bahwa manusia posisinya setara dengan mahluk lainnya di muka bumi ini. Manusia dan cacing tanah punya hak dan nilai yang sama di alam. Dalam konteks ilmu sosial, bukan manusia saja yang berbudaya tetapi hewan sehingga penting untuk dilakukan gambaran tentang aktivitas kebudayaannya.

Diantaranya Hartigan (2021), yang melakukan kajian etnografi multispesies tentang kuda liar di Galicia, Spanyol. Ia menggabungkan konsep erving goffman tentang face, footing dan civil inatention dengan pendekatan etologi. Etologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku hewan dalam lingkungan alaminya. Etologi bertujuan untuk memahami bagaimana hewan berinteraksi dengan lingkungan sekitar, termasuk perilaku sosial, komunikasi, dan adaptasi.

Di lapangan Hartigan menggunakan teknik etologi berupa pengamatan langsung untuk mengumpulkan data bagaimana kuda liar berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Selanjutnya data-data tersebut dianalisisnya menggunakan konsep Erving Goffman tentang face, footing dan civil inatention. Konsep Face (muka) untuk menjelaskan bagaimana individu mempresentasikan diri mereka sendiri dalam interaksi sosial. Dalam hal ini face adalah “citra diri” yang ingin dipelihara dan dilindungi oleh individu dalam interaksi sosial. Sementara footing untuk menjelaskan bagaimana individu memposisikan diri dalam interaksi sosial. Ini berhubungan dengan peran dan posisi yang dilakoni oleh individu. Selanjutnya civil inatention untuk menjelaskan bagaimana individu menunjukkan perhatian yang sopan dan hormat kepada orang lain.

Dalam artikelnya Hartigan menjelaskan bahwa analisis yang dilakukannya membalik kajian klasik Clifford Geertz tentang sabung ayam di Bali. Jika Geertz memandang hewan-hewan itu sebagai representasi keprihatinan status manusia, Hartigan menempatkan sosialitas kuda sebagai pusat analisis. Atas hal ini Hartigan berkeyakinan bahwa pendekatan yang dia gunakan akan bermanfaat pada berbagai taksa yang menunjukkan budaya :

“Saya berpendapat bahwa pendekatan ini dapat diterapkan secara bermanfaat pada berbagai taksa yang menunjukkan budaya, khususnya pada spesies yang terlibat dalam upaya konservasi. Dalam mengembangkan argumen ini, saya merujuk pada upaya para etnoprimatolog untuk mensintesis etnografi multispesies dengan metode dan perspektif etologi”.

Ya, begitulah !!

Trending Topic

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

[democracy id="2"]

Related news