RSUD Pirngadi Klarifikasi Viral Visum Malam Hari, Tegaskan Tidak Ada Penolakan Pasien

Medan, Redaksisatu.Id.Batubara — Plt. Direktur RSUD Dr. Pirngadi Medan, dr. Mardohar Tambunan, memberikan klarifikasi terkait polemik dugaan penolakan pelayanan visum terhadap seorang pasien yang sempat viral di media sosial.

Polemik tersebut mencuat setelah beredar video yang menarasikan pasien tidak dilayani saat meminta visum pada malam hari di RSUD Dr. Pirngadi Medan.

Menanggapi hal itu, dr. Mardohar menjelaskan bahwa kronologi kejadian tidak sesuai dengan informasi yang beredar di media sosial.

Menurutnya, pasien datang ke rumah sakit sekitar pukul 21.00 WIB, bukan pukul 18.30 WIB seperti yang disebut dalam video viral tersebut.

Ia juga menyebut pasien dalam kondisi hamil lima bulan dan membawa surat dari pihak kepolisian yang tergolong surat biasa, bukan kategori mendesak atau urgent.

“Kalau sifatnya urgent, tentu langsung kami tangani. Tapi surat yang dibawa pasien bukan klasifikasi urgent,” jelas dr. Mardohar, Rabu (20/05/2026).

Mardohar menegaskan pelayanan visum di RSUD Dr. Pirngadi tetap tersedia setiap hari hingga pukul 23.00 WIB.

Namun, untuk kasus tertentu seperti dugaan pencabulan maupun pemeriksaan keperawanan, proses visum dilakukan oleh dokter spesialis obstetri dan ginekologi (obgyn) pada jam praktik khusus, yakni pukul 13.00 hingga 15.00 WIB.

Menurutnya, aturan tersebut telah lama diterapkan guna memastikan pemeriksaan berjalan lebih spesifik dan sensitif sesuai prosedur medis.

Selain memberikan klarifikasi terkait pelayanan, pihak rumah sakit juga menyoroti tindakan perekaman video di area rumah sakit tanpa izin.

Mardohar menyebut tindakan tersebut dapat melanggar aturan privasi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ITE Nomor 11 Tahun 2008 dan Undang-Undang Rumah Sakit Nomor 44 Tahun 2009.

“Pasien sudah kami edukasi dan diarahkan untuk datang kembali sesuai prosedur. Jadi tidak ada penolakan pelayanan,” tegasnya.

Ia memastikan RSUD Dr. Pirngadi tetap berkomitmen memberikan pelayanan yang sama kepada seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang sosial maupun ekonomi.

“Mau tukang becak, pedagang, atau pejabat, semua kami layani dengan standar yang sama,” ujarnya.

Menurut Mardohar, peristiwa yang viral tersebut menjadi bahan evaluasi bagi manajemen rumah sakit untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

“Kami menyikapi positif, sebagai pengingat agar pelayanan semakin baik,” tutupnya. (F).

Trending Topic

Etnografi Reflektif

Etnografi Budaya Hewan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

[democracy id="2"]

Related news