Batu Bara — Gorengan menjadi takjil favorit saat Ramadan 1447 H. Menjelang waktu berbuka puasa, aneka gorengan banyak dijajakan pedagang, mulai dari tahu, tempe, pisang goreng, molen, cireng, hingga bakwan.
Menu ini hampir selalu hadir di meja berbuka. Biasanya gorengan disantap bersama secangkir teh hangat atau kopi. Saat digigit dalam keadaan hangat dan disertai minuman manis, rasanya terasa nikmat setelah seharian menahan lapar dan haus.
Banyak orang memilih gorengan karena dianggap mampu mengembalikan energi dengan cepat. Kandungan lemak di dalamnya memang memberi rasa kenyang sementara. Namun di balik kenikmatannya, ada dampak kesehatan yang perlu diperhatikan.
Salah satu risiko yang sering terjadi adalah naiknya asam lambung. Selama berpuasa, perut dalam kondisi kosong. Jika langsung diisi makanan berminyak, lambung harus bekerja lebih keras untuk mencerna lemak. Kondisi ini bisa memicu mual, rasa panas di dada, hingga sensasi terbakar di kerongkongan. Pada penderita asam lambung, gejalanya bisa terasa lebih berat.
Gorengan juga dapat menyebabkan gangguan tenggorokan. Proses penggorengan menghasilkan senyawa bernama akrolein, yaitu zat yang dapat memicu iritasi. Akrolein diketahui berpotensi menyebabkan radang tenggorokan dan batuk. Selain itu, tekstur gorengan yang keras dan kasar bisa membuat tenggorokan terasa kering saat berbuka.
Risiko lain yang tidak boleh diabaikan adalah terbentuknya zat karsinogen. Makanan yang digoreng dengan suhu tinggi berulang kali dapat menghasilkan senyawa berbahaya seperti akrilamida, amina heterosiklik, dan hidrokarbon aromatik polisiklik. Zat tersebut berpotensi memicu perkembangan sel kanker jika dikonsumsi terus-menerus dalam jangka panjang.
Selain itu, konsumsi gorengan berlebihan juga dapat memicu gangguan pencernaan seperti kembung dan sembelit. Lemak yang sulit dicerna dapat memperlambat kerja usus sehingga perut terasa penuh dan tidak nyaman.
Dampak lainnya adalah peningkatan kadar kolesterol. Minyak yang digunakan berulang kali cenderung mengandung lemak jenuh dan lemak trans lebih tinggi. Jika sering dikonsumsi, kondisi ini bisa berdampak pada kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Meski memiliki berbagai risiko, gorengan tetap boleh dikonsumsi saat berbuka puasa selama jumlahnya dibatasi dan tidak dikonsumsi setiap hari. Sebaiknya awali berbuka dengan makanan ringan yang lebih mudah dicerna, lalu beri jeda sebelum menyantap makanan berminyak.
Untuk pilihan yang lebih aman, gorengan bisa dibuat sendiri di rumah dengan minyak baru dan tidak digunakan berulang kali. Cara ini dapat mengurangi potensi paparan zat berbahaya.
Menikmati gorengan saat berbuka memang menggoda. Namun mengatur porsi dan memilih cara pengolahan yang tepat adalah langkah penting agar ibadah puasa tetap berjalan sehat dan tubuh tetap terjaga. (Sc).

