Semarang, Redaksisatu.Id.batubara — Education Fair Undip 2026 menjadi ajang strategis yang mempertemukan perguruan tinggi, pemerintah, dan industri dari Indonesia serta Taiwan. Kegiatan ini difokuskan untuk memperluas peluang pendidikan global bagi mahasiswa sekaligus memperkuat kerja sama lintas negara.
Education Fair Undip 2026 diselenggarakan oleh Universitas Diponegoro sebagai tuan rumah, dengan melibatkan berbagai mitra internasional. Acara berlangsung di Muladi Dome Undip pada Kamis, 23 April 2026.
Rektor Undip, Suharnomo, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi jembatan penting dalam menghubungkan talenta muda dengan peluang global. Ia menyebutkan bahwa peran perguruan tinggi tidak hanya terbatas pada pendidikan, tetapi juga membekali mahasiswa dengan pengalaman dan keberanian menghadapi dunia yang semakin terhubung.
Selain itu, ia mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dari Indonesia dan Taiwan yang telah mendorong terwujudnya kolaborasi berkelanjutan, tidak hanya dalam bentuk pertukaran ide, tetapi juga kerja sama konkret.
Dari pihak Taiwan, Chun-Chang Chu memaparkan berbagai dukungan bagi mahasiswa internasional. Program tersebut mencakup beasiswa hingga 100 ribu dolar Taiwan per tahun selama dua tahun, subsidi tiket pesawat, serta pembebasan biaya administrasi.
Ia juga menjelaskan bahwa perusahaan mitra menyediakan tunjangan hidup minimal 10 ribu dolar Taiwan per bulan. Kurikulum pendidikan dirancang bersama antara universitas dan industri agar lulusan memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Sementara itu, Mei-Chi Shih menyampaikan bahwa mahasiswa Indonesia memiliki peran penting dalam pendidikan tinggi di Taiwan. Pada tahun akademik 2025, jumlah mahasiswa internasional di Taiwan mencapai lebih dari 140 ribu orang, dengan sekitar 14 ribu berasal dari Indonesia.
Ia menambahkan, pemerintah Taiwan juga memberikan kesempatan bagi lulusan internasional untuk tinggal hingga dua tahun guna mencari pekerjaan tanpa izin kerja. Kebijakan ini membuka peluang lebih luas bagi mahasiswa dalam mengembangkan karier.
Program magang dan pelatihan juga terus diperkuat, termasuk pelatihan Bahasa Mandarin secara intensif untuk mendukung kesiapan mahasiswa memasuki dunia kerja di Taiwan.
Dalam kegiatan tersebut, turut dilakukan penandatanganan kerja sama dengan 10 perguruan tinggi di Indonesia, di antaranya Universitas Negeri Surabaya, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, Universitas Muhammadiyah Semarang, Universitas Budi Luhur, Politeknik Industri ATMI, dan Universitas Esa Unggul.
Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat koneksi global mahasiswa Indonesia sekaligus membuka peluang pendidikan dan karier yang lebih luas di tingkat internasional. (Red/Rel).

