Serdang Bedagai, Redaksisatu.Id.batubara — Gelombang protes dari kalangan ibu-ibu melanda salah satu fasilitas pengisian bahan bakar di wilayah Kabupaten Serdang Bedagai. Puluhan emak-emak dengan membawa berbagai poster serta spanduk menggelar aksi unjuk rasa di area lokasi SPBU nomor 13.203.188 Dolok Masihul yang terletak di Kelurahan Pekan Dolok Masihul, Kecamatan Dolok Masihul, pada hari Rabu, 17 Juni 2026.
Aksi protes di SPBU Dolok Masihul ini terjadi akibat dipicu oleh masalah sering kosongnya persediaan Bahan Bakar Minyak atau BBM jenis solar dan pertalite. Kelangkaan kedua jenis bahan bakar bersubsidi tersebut dilaporkan warga setempat sudah berlangsung selama kurun waktu satu bulan terakhir di pom bensin itu.
Saat melakukan aksi demonstrasi di lapangan, rombongan ibu-ibu tersebut membawa sejumlah poster dan spanduk kain yang berisi berbagai macam kalimat protes. Lembaran spanduk itu di antaranya bertuliskan tuntutan untuk mengusir para oknum penyuling BBM yang bukan merupakan warga asli dari anak daerah Kecamatan Dolok Masihul.

Warga juga menuliskan kalimat tegas bahwa mereka menolak keras jika pasokan minyak di daerah mereka diangkut dan dibawa pergi ke luar dari wilayah Kecamatan Dolok Masihul. Selain itu, terdapat juga tulisan poster yang ditujukan langsung untuk meminta pertolongan kepada Presiden RI agar membantu mengatasi kesusahan rakyat kecil.
Nurhayati Simamarta bersama dengan Rubiatun yang bertindak sebagai pengatur suara atau orator aksi menyampaikan bahwa warga setempat kini sangat menderita akibat susah mendapatkan BBM. Mereka menaruh curiga bahwa telah terjadi praktik curang berupa pengiriman bahan bakar ke luar wilayah oleh oknum-oknum tertentu.
Pihak pendemo mengklaim bahwa aktivitas mencurigakan itu menjadi penyebab utama mengapa jatah minyak untuk masyarakat sekitar menjadi berkurang drastis. Nurhayati memaparkan bahwa masyarakat setempat sering menyaksikan sendiri adanya kendaraan dari luar daerah yang diduga kuat dipakai untuk menyedot dan membawa pergi BBM dari pom bensin tersebut.
Dampak dari ulah nakal itu membuat para pengendara lokal terpaksa harus rela berdiri mengantre dalam barisan yang sangat panjang demi bisa membeli sedikit bahan bakar. Masalah hilangnya pertalite dan solar di pasaran ini dinilai sudah sangat mengacaukan kelancaran roda kehidupan serta urusan transportasi harian para warga.
Massa yang berunjuk rasa menaruh harapan yang besar agar pihak instansi pemerintah serta dinas terkait bisa segera turun ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan hukum. Rubiatun mendesak agar persoalan ini segera dicarikan solusi yang nyata agar masyarakat tidak terus-menerus dirugikan dalam mencari kebutuhan bahan bakar pokok.

Di tempat yang sama, pihak Humas SPBU Dolok Masihul bernama Alfandi Zuhri memberikan bantahan keras terkait isu miring mengenai adanya penyaluran BBM ke luar daerah secara ilegal. Menurut pengakuan Alfandi, pasokan bahan bakar minyak ke tempat usahanya sebenarnya selalu dikirim masuk oleh armada tangki setiap hari.
Namun, Alfandi menjelaskan bahwa jumlah kiriman minyak yang mereka terima dari pusat sering kali tidak sebanding dengan tingginya jumlah permintaan dari konsumen di lapangan. Sebagai contoh, pihak pengelola SPBU mengajukan order pengiriman sebanyak 16 ton, tetapi barang yang tiba di tangki pendam hanya sebesar 8 ton saja.
Aksi penyampaian pendapat di depan umum yang dilakukan oleh puluhan ibu-ibu ini mendapatkan pengawalan dan penjagaan yang ketat dari aparat Kepolisian Sektor Dolok Masihul. Setelah dilakukan proses musyawarah atau mediasi antara perwakilan warga dengan manajemen SPBU, massa akhirnya bersedia membubarkan diri pulang ke rumah masing-masing dengan kondisi yang sangat tertib. (Rasum).

