Bangka Barat — Teh Tayu Bangka Barat menjadi salah satu produk teh unik di Indonesia karena tumbuh di wilayah pesisir dengan suhu panas. Berbeda dari kebun teh pada umumnya yang berada di dataran tinggi, tanaman teh ini berkembang di Dusun Tayu, Desa Ketap, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat.
Teh Tayu tumbuh di dataran rendah dengan ketinggian hanya sekitar 0 hingga 24 meter di atas permukaan laut. Di wilayah tersebut, suhu udara bahkan dapat mencapai 38 derajat Celsius. Kondisi ini berbeda jauh dengan kebun teh pada umumnya yang berada di daerah pegunungan dengan suhu sejuk.
Namun justru dari kondisi alam tersebut, Teh Tayu memiliki karakter rasa yang khas. Intensitas cahaya matahari yang tinggi membuat tanaman teh menghasilkan kadar polifenol yang cukup tinggi. Senyawa antioksidan ini memberikan warna seduhan kuning kemerahan serta rasa yang kuat dan khas.
Keunikan inilah yang menjadi ciri khas teh hijau asal Bangka Barat tersebut. Tanaman teh di kawasan ini mampu beradaptasi dengan tanah berpasir, suhu panas, serta iklim tropis yang cukup ekstrem.
Ketua MPIG Teh Tayu Jebus Bangka Barat, Asyro Hasbar, menjelaskan bahwa kondisi alam pesisir justru membentuk identitas rasa Teh Tayu. Menurutnya, karakter tersebut menjadi pembeda utama dibandingkan teh dari daerah lain di Indonesia.

Ia mengatakan bahwa Teh Tayu tumbuh dan beradaptasi langsung dengan lingkungan alam Bangka Barat. Keunikan ini pula yang terus dijaga bersama melalui perlindungan Indikasi Geografis.
Sejarah Teh Tayu sendiri sudah berlangsung lebih dari satu abad. Sekitar 150 tahun lalu, masyarakat keturunan Tionghoa membawa varietas teh dari Tiongkok ke wilayah Jebus. Tanaman tersebut kemudian berkembang dan beradaptasi dengan kondisi alam setempat hingga saat ini.
Sebagian kebun teh bahkan masih tumbuh di pekarangan rumah warga. Tanaman tersebut dirawat secara turun-temurun oleh masyarakat setempat sebagai bagian dari tradisi dan sumber penghidupan.
Proses pengolahan Teh Tayu juga masih menggunakan cara tradisional. Daun pucuk teh dipetik secara manual, kemudian dilayukan dan digulung menggunakan tangan sebelum disangrai.
Proses penyangraian dilakukan dengan menggunakan kayu bakar endemik setempat. Asap dan panas dari kayu bakar tersebut memberikan aroma khas yang sulit ditiru oleh proses produksi modern menggunakan mesin.
Meski menggunakan metode tradisional, kualitas Teh Tayu tetap dijaga dengan standar mutu yang ketat. Beberapa parameter seperti kadar air, kandungan polifenol, hingga kualitas rasa dan aroma diuji untuk memastikan mutu produk tetap konsisten.
Hasilnya, Teh Tayu memiliki karakter seduhan berwarna kuning kemerahan dengan rasa yang seimbang serta aroma khas yang berbeda dari teh hijau lainnya.
Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual, Hermansyah Siregar, menjelaskan bahwa perlindungan Indikasi Geografis menjadi langkah penting untuk menjaga keunikan produk tersebut.

Dalam wawancara daring melalui Zoom pada Sabtu, 07 Maret 2026, ia menyampaikan bahwa Indikasi Geografis tidak hanya berkaitan dengan nama produk. Perlindungan tersebut juga menjaga reputasi, kualitas, serta karakter yang terbentuk dari hubungan antara produk dengan wilayah asalnya.
Menurutnya, Teh Tayu Jebus Bangka Barat menjadi contoh bagaimana faktor alam dan kearifan lokal dapat menghasilkan produk dengan identitas kuat yang tidak dapat dipindahkan ke daerah lain.
Saat ini produksi Teh Tayu masih tergolong terbatas. Sebanyak 17 petani yang tergabung dalam MPIG memproduksi teh dengan jumlah sekitar 12 hingga 40 kilogram per bulan.
Untuk kualitas premium, harga jual Teh Tayu dapat mencapai Rp300.000 per kilogram. Meski memiliki nilai ekonomi tinggi, pengembangan pemasaran masih menjadi tantangan bagi para petani.
Bagi masyarakat Desa Ketap, perlindungan Indikasi Geografis bukan sekadar pengakuan resmi. Hal tersebut juga menjadi harapan agar generasi muda tetap tertarik melanjutkan tradisi berkebun teh di wilayah tersebut.
Teh Tayu menjadi bukti bahwa kualitas teh tidak selalu lahir dari dinginnya pegunungan. Di pesisir Bangka Barat yang panas, teh ini tumbuh dengan karakter kuat yang dibentuk oleh alam dan kearifan lokal masyarakatnya. (Red/Rel).

