BATU BARA — Punggahan merupakan tradisi masyarakat Jawa Muslim yang dilakukan menjelang datangnya bulan suci Ramadan. Kata punggahan berasal dari bahasa Jawa munggah yang berarti naik, yaitu naik menuju kesiapan lahir dan batin sebelum menjalankan ibadah puasa.
Punggahan bukan sekadar acara kumpul biasa. Tradisi ini menjadi simbol saling memaafkan, mempererat silaturahmi, serta memperbaiki hubungan sebelum memasuki bulan Ramadan. Melalui punggahan, masyarakat diingatkan untuk menata diri agar ibadah dijalani dengan hati yang tenang.
Dalam pelaksanaannya, punggahan biasanya dilakukan dengan berkumpul bersama keluarga, membaca doa, dan berbagi makanan. Nilai utamanya adalah kebersamaan dan kerukunan.
Tradisi ini masih terjaga di berbagai daerah yang memiliki komunitas Jawa, termasuk di Kabupaten Batu Bara. Masyarakat memandang punggahan sebagai pengantar suasana religius sebelum memasuki bulan puasa.
Salah satu keluarga yang rutin melaksanakan tradisi ini adalah keluarga besar Akur Saka Jaya. Pada tahun 2026, mereka kembali menggelar punggahan di Desa Sei Suka Deras, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu Bara pada 15 Februari 2026.
Akur Saka Jaya merupakan arisan keluarga besar almarhum Bapak Saiman dan almarhumah Ibu Kamsah. Arisan keluarga ini didirikan pada 5 Oktober 2010 dan berpusat di Desa Sei Simujur, Kecamatan Laut Tador.

Kegiatan tersebut diikuti anggota keluarga dalam suasana kekeluargaan. Mereka berkumpul untuk mempererat hubungan, menjaga tradisi leluhur, sekaligus mempersiapkan diri menyambut Ramadan.
Pelaksanaan punggahan oleh keluarga Akur Saka Jaya menunjukkan bahwa tradisi lokal tetap hidup dan diwariskan antar generasi. Selain bernilai budaya, kegiatan ini juga menjadi pengingat pentingnya kebersamaan sebelum menjalankan ibadah puasa. (Sc).

