Jakarta — Swedia dan Serbia minta warganya tinggalkan Iran setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran terkait program nuklir Teheran. Seruan resmi ini disampaikan menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat yang mempertimbangkan langkah militer apabila negosiasi tidak mencapai hasil.
Swedia dan Serbia keluarkan peringatan perjalanan darurat. Pemerintah Serbia lebih dulu, pada pertengahan Januari, meminta seluruh warga negaranya untuk meninggalkan Iran dan menunda perjalanan ke negara tersebut. Imbauan itu muncul di tengah memburuknya situasi keamanan serta penindakan keras otoritas Iran terhadap gelombang protes massal.
Kementerian Luar Negeri Serbia dalam pernyataan resminya menyebut, karena kondisi keamanan yang terus memburuk, warga Serbia tidak disarankan melakukan perjalanan ke Iran dalam waktu dekat. Warga Serbia yang saat ini berada di Iran diminta segera meninggalkan negara tersebut.
Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Swedia, Maria Malmer Stenergard, melalui akun media sosial X menyampaikan seruan tegas kepada warga Swedia yang berada di Iran agar segera keluar dari wilayah tersebut.
Pemerintah Iran pada Jumat (20/2) menyatakan harapan untuk mencapai kesepakatan cepat dengan Amerika Serikat mengenai program nuklirnya. Program tersebut telah lama menjadi sumber ketegangan antara Teheran dan Washington.
Namun Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan tengah mempertimbangkan serangan militer terbatas jika jalur negosiasi gagal. Pernyataan ini mempertegas eskalasi tekanan terhadap Iran.
Trump sebelumnya memerintahkan peningkatan besar kekuatan angkatan laut Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah sebagai bentuk tekanan strategis terhadap Teheran.
Pada Jumat (20/2), kapal induk terbesar di dunia milik Amerika Serikat, USS Gerald R. Ford, terpantau memasuki Laut Mediterania. Kapal tersebut melintasi Selat Gibraltar yang menghubungkan Samudra Atlantik dengan Laut Mediterania.
Pengiriman kapal induk ini merupakan bagian dari perintah langsung Presiden Trump untuk memperkuat kehadiran militer AS di Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
USS Gerald R. Ford dijadwalkan bergabung dengan kapal induk lainnya, USS Abraham Lincoln, beserta kapal-kapal perang pengiring yang lebih dulu berada di kawasan tersebut.
Langkah Swedia dan Serbia mengeluarkan seruan evakuasi menunjukkan kekhawatiran internasional atas potensi konflik yang lebih luas. Situasi keamanan di Iran dinilai tidak stabil di tengah tekanan diplomatik dan militer dari Amerika Serikat.
Perkembangan ini menjadi perhatian global karena berpotensi memicu dampak geopolitik yang luas, terutama di kawasan Timur Tengah yang selama ini sensitif terhadap konflik berskala besar. (Sc).

