Jakarta, Redaksisatu.Id.batubara — Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB mencatat rentetan kejadian alam merugikan di berbagai daerah dalam kurun waktu 25 sampai 26 Mei 2026. Laporan harian dari senin pagi hingga selasa pagi ini menunjukkan dominasi bencana akibat faktor cuaca basah, mulai dari banjir bandang, tanah longsor, hingga kebakaran lahan dan getaran gempa bumi.
Bencana hidrometeorologi berupa luapan air dan pergeseran tanah menerjang wilayah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten pada Minggu sore, 24 Mei 2026 akibat guyuran hujan lebat berdurasi lama. Genangan air setinggi 30 hingga 50 sentimeter merendam tiga belas desa yang tersebar di lima kecamatan, meliputi Kecamatan Cibeber, Banjarsari, Leuwidamar, Cilograng, dan Bayah.
Dampak buruk cuaca ekstrem ini menyebabkan 33 unit rumah warga terendam, dengan rincian 3 unit rusak berat, 2 unit rusak sedang, dan 2 unit mengalami rusak ringan. Selain merusak tempat tinggal, tanah longsor juga menutup total akses jalan penting di Jalan Stimulya Kujangsari, Desa Cikadu. Petugas gabungan langsung menurunkan alat berat untuk membuka jalur darurat tersebut, dan beruntung tidak ada korban jiwa yang jatuh.

Pada waktu yang bersamaan, musibah serupa juga menghantam Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat yang dipicu oleh curah hujan tinggi serta kondisi tanah yang labil. Area yang terdampak mencakup 14 desa di 8 kecamatan berbeda, seperti Kecamatan Ciemas, Cicurug, Palabuhanratu, Simpenan, Cibitung, Ciracap, dan Surade.
Tercatat ada 60 unit rumah warga yang terendam banjir, bersama dengan 2 fasilitas sekolah, 1 bangunan kesehatan, dan 11 titik jalan transportasi yang ikut terganggu. Sementara itu, bencana longsor susulan di Sukabumi merusak tembok penahan tanah serta mengancam keselamatan 8 unit rumah warga sekitar, sehingga membuat petugas fokus menyalurkan bantuan material dan terpal.
Bencana alam di luar Pulau Jawa juga dilaporkan melanda Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah pada Senin sore, 25 Mei 2026. Hujan yang sangat deras mengakibatkan debit air sungai meluap hebat hingga menjebol dinding tanggul pembatas di Desa Sibalago, Desa Tolai, dan Desa Balinggi Jati.
Arus air yang deras merendam 30 rumah warga, area persawahan, serta kolam empang, bahkan sempat memutus akses kendaraan roda dua karena jalanan tergenang. Hingga senin malam, banjir dilaporkan belum juga surut karena wilayah setempat masih terus diguyur hujan.

Di wilayah barat Indonesia, musibah kebakaran lahan melanda Kampong Weh Pesam, Kecamatan Weh Pesam, Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Aceh pada Senin siang. Kobaran api menghanguskan lahan kosong seluas satu hektar sebelum akhirnya berhasil dipadamkan oleh armada pemadam kebakaran setempat.
Selain cuaca ekstrem, aktivitas gempa bumi juga mengguncang dua wilayah di Indonesia dalam waktu yang berdekatan. Gempa pertama berkekuatan Magnitudo 5,7 mengguncang dasar laut Kota Bitung dan Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara pada Selasa dini hari dengan kedalaman 22 kilometer, namun tidak berpotensi tsunami.
Selanjutnya, getaran gempa berkekuatan Magnitudo 5,1 juga dirasakan oleh warga di Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat pada Selasa pagi selama 10 detik. Pusat gempa berada di laut sedalam 10 kilometer pada koordinat 3.96 Lintang Selatan dan 133.99 Bujur Timur, dengan kondisi lapangan yang tetap aman dan tanpa ada laporan kerusakan fisik.
BNPB terus mengimbau seluruh jajaran pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap bersiaga penuh menghadapi potensi bencana hidrometeorologi basah maupun kering yang diprediksi masih tinggi hingga awal Juni. (Red/Rel).
Sumber: BNPB RI.

