Batu Bara, Redaksisatu.Id.batubara – Program Sedekah Sampah Bantu Anak Yatim Sekolah yang digagas Bank Sampah Berseri bersama MIS Al Mukhlisin di Desa Kuala Tanjung, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, menghadirkan cara kreatif untuk membantu pendidikan anak yatim.
Melalui program ini, sampah anorganik seperti botol plastik, kaleng, dan kardus bekas dikumpulkan untuk dijual. Hasil penjualannya akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan perlengkapan sekolah bagi 12 siswa yatim dari keluarga kurang mampu.
Kegiatan yang berlangsung pada Senin (2/11/2026) tersebut melibatkan 248 siswa MIS Al Mukhlisin. Program ini merupakan inisiatif Bank Sampah Berseri, kelompok binaan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM.
Kepala Departemen Pemberdayaan Masyarakat INALUM, Ali Hasian, mengapresiasi program tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi contoh bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat memberikan manfaat sosial secara langsung, terutama dalam mendukung pendidikan anak-anak yang membutuhkan.
Ia menilai kegiatan tersebut juga mengajarkan siswa bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain.
INALUM berharap program Sedekah Sampah dapat terus berkembang dan menginspirasi masyarakat untuk membiasakan pemilahan sampah sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial.
Pengumpulan Sampah Ditargetkan 35 Kilogram per Bulan

Program Sedekah Sampah melibatkan 248 dari total 406 siswa MIS Al Mukhlisin. Para peserta berasal dari sembilan kelas, mulai tingkat kelas 3 hingga kelas 6.
Dalam pelaksanaannya, siswa mengumpulkan sampah anorganik melalui tempat penampungan yang disediakan di setiap kelas. Sampah tersebut kemudian ditimbang oleh petugas Bank Sampah Berseri setiap Rabu dan Sabtu sebelum dibawa ke bank sampah untuk dijual.
Pengumpulan sampah dalam program ini ditargetkan mencapai 35 kilogram setiap bulan. Seluruh hasil penjualannya akan dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan pendidikan 12 siswa yatim yang menjadi penerima manfaat.
Pembina Bank Sampah Berseri, Dedi Syahputra, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya bertujuan mengurangi sampah, tetapi juga membangun kebiasaan berbagi sejak usia sekolah.
Menurutnya, siswa perlu memahami bahwa sedekah tidak selalu harus berupa uang. Kepedulian juga dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana, termasuk memilah dan mengumpulkan sampah untuk membantu teman yang membutuhkan.
Berbeda dengan sistem bank sampah pada umumnya yang mencatat hasil penyetoran sebagai tabungan masing-masing anggota, sampah dalam program ini dikumpulkan sebagai bentuk sedekah bersama.
Hasil penjualannya diperuntukkan bagi siswa yatim yang membutuhkan bantuan perlengkapan sekolah.

Kepala MIS Al Mukhlisin, Devi Apriani, menyambut positif pelaksanaan program tersebut. Ia menjelaskan bahwa hasil penjualan sampah nantinya akan digunakan untuk membeli perlengkapan sekolah, seperti tas dan sepatu.
Menurut Devi, berapa pun hasil yang diperoleh dari penjualan sampah akan dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan para siswa penerima manfaat.
Bank Sampah Berseri Kembangkan Ekonomi Sirkular
Bank Sampah Berseri merupakan kelompok binaan INALUM yang mengembangkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan pendekatan ekonomi sirkular.
Selain mengumpulkan dan menjual sampah anorganik, kelompok ini juga menjalankan berbagai kegiatan produktif. Kegiatan tersebut meliputi budidaya tanaman hidroponik, peternakan ayam petelur, budidaya maggot, serta perikanan.
Pengembangan berbagai kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari Bupati Batu Bara, Baharuddin Siagian. Ia menilai sistem pengelolaan Bank Sampah Berseri sebagai inovasi yang menarik karena menghubungkan sejumlah kegiatan produktif dalam satu sistem yang saling mendukung.
Melalui program Sedekah Sampah, Bank Sampah Berseri memperluas manfaat pengelolaan lingkungan dengan menghadirkan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan.
Bagi INALUM, pembinaan kelompok masyarakat seperti Bank Sampah Berseri merupakan bagian dari upaya mendorong kepedulian lingkungan, kemandirian ekonomi, dan pemberdayaan sosial secara berkelanjutan.
Program ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi sekolah dan komunitas lain untuk mengembangkan pengelolaan sampah yang tidak hanya menghasilkan nilai ekonomi, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat. (SH).
Sumber: Corcom PT. Inalum.

