AI dan Kreativitas Manusia, Kreator Tetap Jadi Kunci Utama Karya

Jakarta, Redaksisatu.Id.Batubara – Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) kembali menjadi sorotan dalam dunia industri kreatif. Di tengah kemajuan teknologi yang semakin pesat, muncul pertanyaan mengenai posisi AI, apakah hanya sebagai alat bantu atau justru dapat menggantikan manusia sebagai pencipta karya.

Pembahasan tersebut mengemuka dalam program Obrolan Warga yang digelar di Kala Askara – DOSS Ratu Plaza, Sabtu (16/05/2026).

Dalam diskusi itu, Hermansyah Siregar menegaskan bahwa manusia tetap harus menjadi pusat dalam proses penciptaan karya, sementara AI diposisikan sebagai alat pendukung kreativitas.

manu

“Karya cipta tetap harus memiliki unsur manusia, sementara AI diposisikan sebagai alat bantu dalam proses kreatif,” ujar Hermansyah.

Menurutnya, perkembangan AI merupakan hal yang tidak dapat dihindari sehingga perlu direspons melalui regulasi yang adaptif dan seimbang.

Ia menjelaskan pemerintah saat ini sedang menyiapkan pengaturan yang mampu mengakomodasi perkembangan teknologi AI tanpa mengabaikan perlindungan hak para kreator dan pemilik kekayaan intelektual.

Dalam diskusi bertajuk “Agar Kreator Nggak Tekor di Era AI. Proteksi Karya, Nilai Terjaga”, sutradara film Pelangi di Mars, Upie Guava, turut menyoroti pentingnya arah penggunaan AI di Indonesia.

Ia menilai perkembangan teknologi harus dibarengi dengan etika dan literasi digital agar AI tidak mengurangi nilai kreativitas manusia dalam menghasilkan karya.

manu

Sementara itu, Direktur Investasi dan Ekraf Kementerian Luar Negeri RI, Royhan Nevy Wahab, menyebut kekayaan intelektual akan menjadi fondasi ekonomi masa depan Indonesia.

“Indonesia jangan hanya menjadi pasar digital, tetapi juga harus mampu melindungi dan mengembangkan inovasi nasional,” ucap Royhan.

Pandangan serupa juga disampaikan akademisi dan praktisi hukum hiburan, Riyo Hanggoro Prasetyo. Ia menilai regulasi AI tidak akan efektif tanpa adanya kesadaran dan integritas dari para pengguna teknologi tersebut.

Para narasumber dalam diskusi itu sepakat bahwa AI tidak perlu ditakuti, namun penggunaannya tetap harus berada dalam kendali manusia agar kreativitas dan identitas kreator tidak hilang di tengah perkembangan era digital. (Red/Rel).

Trending Topic

Etnografi Reflektif

Etnografi Budaya Hewan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

[democracy id="2"]

Related news