Jakarta — BNPB merilis laporan peristiwa bencana yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia pada periode 12 hingga 13 Maret 2026. Laporan tersebut disampaikan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana melalui Direktorat Koordinasi dan Pengendalian Operasi (Koordalops).
BNPB mencatat sejumlah kejadian bencana yang dipicu oleh kondisi cuaca yang berbeda di setiap wilayah. Bencana yang terjadi didominasi oleh bencana hidrometeorologi, baik yang bersifat kering seperti kebakaran hutan dan lahan maupun bencana basah akibat hujan disertai angin kencang.
Karhutla di Kabupaten Batanghari Jambi menjadi salah satu peristiwa yang terjadi dalam periode tersebut. Kebakaran hutan dan lahan dilaporkan terjadi di Desa Penerokan, Kecamatan Bajubang, pada Kamis (12/3/2026).

BNPB menyebutkan bahwa kebakaran tersebut menghanguskan lahan dengan luas sekitar lima hektare. Tim reaksi cepat yang berada di lokasi telah berhasil memadamkan sekitar tiga hektare area yang terbakar.
Saat ini petugas di lapangan masih melakukan proses pendinginan guna memastikan titik api tidak kembali menyala dan mencegah kebakaran meluas ke wilayah lain.
Selain kebakaran hutan dan lahan, BNPB juga mencatat dampak cuaca ekstrem yang terjadi di sejumlah daerah. Hujan yang disertai angin kencang dilaporkan menimbulkan kerusakan di wilayah Jawa Barat dan Sumatera Selatan.
Di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, cuaca ekstrem berdampak pada ratusan keluarga. Sebanyak 372 kepala keluarga atau sekitar 1.429 jiwa dilaporkan terdampak akibat kejadian tersebut.
Peristiwa ini terjadi pada Rabu (11/3/2026) di beberapa wilayah, yaitu Desa Grogol dan Desa Mertasinga di Kecamatan Gunungjati serta Desa Muara di Kecamatan Suaranenggala.

Akibat kejadian tersebut, sejumlah bangunan mengalami kerusakan dengan rincian tiga unit rumah rusak berat, satu unit rumah rusak sedang, serta 287 unit rumah mengalami kerusakan ringan.
Bencana serupa juga terjadi di Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Angin kencang yang melanda Desa Saleh Mukti, Kecamatan Air Saleh, pada Rabu (11/3/2026) menyebabkan 15 unit rumah mengalami kerusakan berat.
Kejadian tersebut berdampak pada sedikitnya 55 warga setempat. Hingga saat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) masih melakukan penanganan darurat di lokasi kejadian.
Petugas di lapangan juga melakukan pendataan serta pembersihan pohon tumbang yang sempat menutup akses jalan di beberapa titik wilayah terdampak.
BNPB juga mengingatkan bahwa potensi cuaca ekstrem masih dapat terjadi dalam beberapa hari ke depan. Berdasarkan prakiraan, pada tanggal 14 hingga 15 Maret 2026 sebagian wilayah Pulau Jawa, Sumatera bagian selatan dan Kalimantan berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat.
Hujan tersebut berpotensi disertai kilat dan angin kencang yang biasanya terjadi pada sore hingga malam hari. Kondisi ini dapat memicu bencana seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor serta angin kencang.

BNPB menilai potensi risiko tersebut perlu menjadi perhatian masyarakat karena bertepatan dengan meningkatnya mobilitas masyarakat menjelang arus mudik Lebaran 2026.
Para pengendara diimbau untuk mewaspadai kondisi jalan yang licin serta kemungkinan jarak pandang yang terbatas akibat hujan lebat.
BNPB juga mengingatkan masyarakat agar selalu memantau informasi cuaca dan potensi bencana melalui kanal resmi pemerintah. Informasi dapat diperoleh melalui BNPB, BMKG, PVMBG maupun lembaga terkait lainnya.
Selain itu, masyarakat juga dianjurkan memanfaatkan aplikasi InaRISK untuk mengetahui peta wilayah yang berpotensi terdampak bencana sebelum melakukan perjalanan.
BNPB menegaskan bahwa perjalanan sebaiknya tidak dipaksakan apabila terjadi hujan deras dalam waktu lama. Masyarakat diminta segera mencari tempat berlindung yang aman dan menghindari lokasi berisiko seperti di bawah pohon besar, papan reklame maupun baliho yang dapat roboh akibat angin kencang.
Selain itu, kondisi kendaraan juga harus dipastikan dalam keadaan baik sebelum melakukan perjalanan. Masyarakat juga disarankan menyiapkan rencana darurat apabila jalur perjalanan mengalami hambatan akibat genangan air atau tanah longsor.
BNPB bersama BPBD di seluruh daerah akan terus melakukan pemantauan selama 24 jam terhadap wilayah yang rawan bencana guna memastikan keamanan masyarakat, terutama selama masa mudik Lebaran 2026. (Red/Rel).
Sumber: BNPB RI.

