Sumatera Utara, Redaksisatu.Id.Batubara — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi, baik yang dipicu musim kemarau maupun curah hujan tinggi.
Langkah ini dilakukan dengan memperkuat koordinasi bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika guna memperoleh data akurat terkait puncak musim kemarau serta potensi bencana yang mungkin terjadi di wilayah tersebut.
Kepala BPBD Sumut, Tuahta Ramajaya Saragih, menjelaskan bahwa hasil koordinasi nantinya akan menjadi dasar penyusunan instruksi gubernur kepada seluruh pemerintah kabupaten dan kota.
Instruksi tersebut tidak hanya menekankan kesiapan pemerintah daerah, tetapi juga mendorong peran aktif masyarakat dalam upaya pencegahan dan penanganan bencana.
BPBD Sumut juga telah menyiagakan berbagai peralatan, terutama untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan. Pemantauan kondisi lapangan dilakukan secara terus-menerus melalui pusat komando guna memastikan respons cepat saat terjadi keadaan darurat.
Meski memasuki musim kemarau, kondisi cuaca di Sumatera Utara dinilai tidak menentu. Curah hujan masih berpotensi tinggi di sejumlah wilayah, sehingga risiko banjir dan longsor tetap harus diwaspadai.
Sejumlah jalur rawan longsor menjadi perhatian khusus, di antaranya lintasan Medan menuju Karo, Karo ke Dairi dan Pakpak Bharat, serta jalur Tarutung menuju Sibolga dan Padang Sidempuan.
Ketersediaan alat berat di wilayah tersebut dinilai penting untuk mempercepat penanganan jika terjadi longsor yang dapat menghambat akses transportasi masyarakat.
BPBD juga mengingatkan warga agar tidak melakukan pembakaran lahan atau aktivitas yang dapat memicu kebakaran, terutama di tengah kondisi cuaca kering.
Selain itu, masyarakat yang melintas di jalur rawan longsor diminta lebih berhati-hati, sementara warga yang tinggal di daerah berisiko diminta segera melaporkan kondisi lingkungan kepada pemerintah setempat.
BPBD Sumut menegaskan bahwa kewaspadaan dan kerja sama antara pemerintah, instansi terkait, serta masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi dampak bencana di wilayah Sumatera Utara. (Sc).

