BNPB Rilis Bencana 5–6 Maret 2026, Cuaca Ekstrem Dominasi Sejumlah Wilayah Indonesia

Jakarta — BNPB merilis laporan kejadian bencana di berbagai wilayah Indonesia selama periode 5 hingga 6 Maret 2026. Data tersebut dihimpun oleh Direktorat Pengendalian Operasi BNPB hingga Jumat (06/03/2026) pukul 07.00 WIB. Hasil pemantauan menunjukkan sejumlah kejadian bencana baru yang didominasi oleh fenomena cuaca ekstrem dan angin kencang di beberapa daerah.

BNPB mencatat cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas tinggi yang disertai petir dan angin kencang menjadi pemicu utama berbagai kejadian bencana dalam 24 jam terakhir. Peristiwa tersebut terjadi di sejumlah provinsi dan menyebabkan kerusakan rumah serta berdampak pada ratusan warga.

Di Provinsi Jawa Tengah, angin puting beliung terjadi di Kota Semarang pada Rabu (04/03/2026) sore. Peristiwa ini berdampak pada 17 kelurahan di delapan kecamatan. Sebanyak 105 rumah milik 105 kepala keluarga dilaporkan mengalami kerusakan. Selain itu, tiga gedung sekolah serta enam bangunan perkantoran dan fasilitas umum lainnya juga terdampak.

Cuaca ekstrem juga terjadi di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, pada hari yang sama. Angin kencang melanda delapan kelurahan di tiga kecamatan. Berdasarkan hasil kaji cepat, tercatat 14 rumah mengalami kerusakan serta sejumlah fasilitas umum dan pohon tumbang di beberapa titik wilayah.

Di Kabupaten Wonogiri, cuaca ekstrem mengakibatkan kerusakan pada puluhan rumah warga. Sebanyak 60 rumah mengalami kerusakan kategori sedang dan lima rumah lainnya rusak berat. Wilayah terdampak meliputi tujuh desa dan tiga kelurahan yang tersebar di delapan kecamatan.

Sementara itu, Kabupaten Karanganyar juga melaporkan dampak cuaca ekstrem yang mengenai sekitar 80 kepala keluarga. Peristiwa tersebut terjadi di lima desa pada dua kecamatan. Di Kabupaten Sragen, cuaca ekstrem menyebabkan 20 kepala keluarga terdampak dengan kerusakan rumah pada kategori berat dan ringan.

Bencana serupa juga dilaporkan di Provinsi Jawa Timur. Angin kencang yang melanda Kabupaten Pasuruan menyebabkan satu warga mengalami luka-luka serta merusak 17 rumah dan beberapa fasilitas umum. Di Kabupaten Situbondo, cuaca ekstrem berdampak pada 28 kepala keluarga dengan kerusakan rumah yang bervariasi, yaitu 12 rumah rusak ringan, 14 rumah rusak sedang, dan dua rumah rusak berat.

Di luar Pulau Jawa, kejadian cuaca ekstrem juga terjadi di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Bencana tersebut berdampak pada 62 kepala keluarga dan merusak 61 rumah warga. Wilayah yang terdampak meliputi enam desa dalam satu kecamatan. Kondisi di wilayah tersebut saat ini dilaporkan mulai berangsur normal.

Angin puting beliung juga dilaporkan terjadi di Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, yang berdampak pada 11 kepala keluarga. Sementara di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, cuaca ekstrem menyebabkan 31 kepala keluarga terdampak. Hingga saat ini penanganan darurat serta perbaikan rumah secara mandiri masih terus dilakukan oleh warga di wilayah terdampak.

Selain angin kencang, BNPB juga mencatat kejadian banjir di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Banjir yang terjadi pada Rabu (04/03/2026) tersebut berdampak pada 11 desa di lima kecamatan. Sebanyak 176 rumah warga sempat terendam dan berdampak pada 542 jiwa. Berdasarkan laporan terbaru dari lapangan, kondisi banjir telah surut sepenuhnya. Petugas saat ini masih melakukan pendataan serta pembersihan material sisa banjir.

Di tengah dominasi bencana hidrometeorologi basah, potensi kebakaran hutan dan lahan mulai terdeteksi di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan. Kebakaran yang terjadi pada Kamis (05/03/2026) menghanguskan lahan seluas sekitar lima hektar. Petugas gabungan terus melakukan upaya pengendalian agar api tidak meluas ke kawasan perkebunan maupun hutan lindung.

BNPB menilai kondisi ini menunjukkan Indonesia sedang berada pada fase transisi cuaca yang sangat dinamis. Dalam situasi tersebut, ancaman banjir dan angin kencang dapat terjadi bersamaan dengan potensi kekeringan lokal yang memicu munculnya titik api.

Berdasarkan prakiraan cuaca untuk dua hari ke depan, yaitu 7 hingga 8 Maret 2026, potensi hujan lebat disertai kilat masih berpeluang terjadi di wilayah Jawa, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan pada sore hingga malam hari. Sementara itu, wilayah Sumatera bagian selatan dan Nusa Tenggara diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi angin kencang.

Di sisi lain, penurunan curah hujan di wilayah Riau dan Kalimantan Barat mulai meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan pada tingkat moderat. BNPB terus memperkuat koordinasi dengan BPBD di berbagai daerah untuk memastikan penanganan darurat berjalan cepat serta pendataan dampak bencana tetap akurat.

Sebagai langkah mitigasi, masyarakat diimbau untuk memperkuat kondisi hunian dengan memangkas dahan pohon yang berpotensi membahayakan serta memeriksa kondisi atap rumah guna mengantisipasi terpaan angin kencang. Warga yang tinggal di kawasan rawan longsor maupun bantaran sungai juga diingatkan agar melakukan evakuasi mandiri apabila terjadi hujan deras dalam waktu lama.

BNPB juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan dalam kondisi apa pun. Apabila ditemukan titik api sekecil apa pun, warga diminta segera melaporkan kepada otoritas setempat guna mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan yang dapat menimbulkan bencana asap. (Red/Rel).

Sumber: BNPB RI.

Trending Topic

Etnografi Reflektif

Etnografi Budaya Hewan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

[democracy id="2"]

Related news