Jakarta, Redaksisatu.Id.batubara — BNPB rilis bencana periode 22-23 Maret 2026 yang didominasi kejadian hidrometeorologi basah di sejumlah wilayah Indonesia. Laporan ini mencakup pemantauan sejak 22 Maret pukul 07.00 WIB hingga 23 Maret 2026 pukul 07.00 WIB.
BNPB rilis bencana menunjukkan banjir dan longsor terjadi di tengah meningkatnya mobilitas masyarakat pasca Idul Fitri. Beberapa wilayah terdampak cukup serius, terutama di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur.
Di Kota Pasuruan, Jawa Timur, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat sejak Sabtu malam memicu banjir akibat luapan Sungai Welang yang diperparah pasang air laut. Genangan air mencapai ketinggian 5 hingga 40 cm dan merendam permukiman warga.
Wilayah terdampak meliputi Kecamatan Gadingrejo, tepatnya Kelurahan Karangketug serta Desa Rujak Gadung dan Karang Asem. Sekitar 100 kepala keluarga terdampak dan 100 rumah terendam banjir.
BPBD Jawa Timur bersama BPBD Kota Pasuruan langsung melakukan asesmen dan pemantauan ketinggian air. Upaya ini dilakukan untuk memastikan keselamatan warga dan mengantisipasi peningkatan debit air.

Peristiwa ini terjadi dalam status siaga darurat bencana hidrometeorologi di Jawa Timur yang berlaku sejak 27 November 2025 hingga 1 Mei 2026.
Sementara itu, di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, banjir melanda sejak Jumat (20/3) akibat hujan deras yang menyebabkan Sungai Lowo Regi meluap. Dampaknya, akses jalan di Desa Masebewa terputus.
Sebanyak 10 desa terdampak dengan total 2.922 kepala keluarga atau 12.981 jiwa. Warga terpaksa menyeberangi banjir dengan berjalan kaki, sehingga berisiko terhadap keselamatan.
Selain itu, 2.922 rumah terdampak dengan rincian satu unit rusak berat dan tiga unit rusak ringan. Kerusakan juga terjadi pada lahan pertanian seluas 15 hektare, pipa air bersih, serta beberapa titik akses jalan.
BPBD Kabupaten Sikka bersama instansi terkait telah turun langsung melakukan pendataan dan penanganan di lapangan. Kebutuhan mendesak meliputi sembako, terpal, air bersih, serta perbaikan akses jalan.

Masih di wilayah Sikka, bencana tanah longsor juga terjadi dan masih dalam penanganan. Longsor menutup akses jalan antara Desa Poma dan Desa Napugera di Kecamatan Tanawawo.
Sebanyak 11 kepala keluarga terdampak dan 11 rumah berada dalam kondisi terancam. Penanganan dilakukan dengan pembersihan material longsor dan pembukaan kembali akses jalan.
BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, terutama di wilayah dengan curah hujan tinggi. Masyarakat diminta memantau kondisi cuaca, menjaga lingkungan, dan segera mengungsi jika situasi memburuk.
Pemerintah daerah juga diminta memperkuat kesiapsiagaan dan koordinasi guna meminimalkan risiko bencana di tengah aktivitas masyarakat yang masih tinggi pasca Lebaran. (Red/Rel).
Sumber: BNPB RI.

