Bupati Simalungun Lakukan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Masjid Ilham Sigundaba di Pematang Raya, Harapkan Selesai Tahun ini

Simalungun l Redaksisatu.Id.batubara

Suasana di Jalan Sutomo Kota Pematang Raya, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, terasa penuh kehangatan dan harapan. Di lokasi yang akan menjadi tapak Masjid Ilham Sigundaba, Bupati Simalungun Dr. H. Anton Achmad Saragih melakukan peletakan batu pertama yang menandai awal perjalanan pembangunan masjid baru tersebut.

Tapak masjid yang direncanakan berukuran sekitar 14 x 15 meter terletak di atas tanah wakaf yang diberikan oleh Opung Iman Saragih dan keluarga Opung Amat Saragih Garingging.

 

Masjid Ilham Sigundaba yang ada hari ini memiliki akar sejarah yang sederhana, semula berbentuk langgar yang terletak sekitar 150 meter dari lokasi sekarang. Atas kesepakatan warga terdahulu, langgar itu dipindahkan ke tanah hibah dari Op. Iman Saragih yang dikenal sebagai Tuan Lampu, dan dibangun menjadi masjid semi permanen dengan nama Masjid Ilham Sigundaba.

Berjalannya waktu, Bupati Simalungun saat itu dijabat oleh Dr. JR Saragih, masyarakat sekitar menginisiasi pembangunan masjid yang lebih baik. Mereka mengajukan bantuan kepada bupati dan mendapat persetujuan, sehingga pembangunan masjid selesai.

Saat ini, kebutuhan akan ruang yang lebih luas untuk menampung jamaah shalat membuat masyarakat sepakat untuk membangun kembali masjid.

 

Tanah untuk pembangunan masjid baru ini memiliki sejarah yang dalam: dulunya merupakan warisan Opung Tuan Sigundaba (anak Raja Raya Tuan Rondahaim Saragih), yang diwariskan kepada Opung Amat Saragih.

Atas kesepakatan keturunan Opung Amat Saragih, tanah itu diberikan kepada putrinya yang bernama Sitimas Saragih, kemudian diteruskan kepada putrinya yang bernama Purnama Sinaga, istri Muhammad Arifin Harahap.

Lokasi pembangunan Masjid ini sendiri bukanlah keputusan semata-mata, melainkan hasil kesepakatan yang penuh cinta dan rasa tanggung jawab dari semua anak cucu Opung Amat Saragih Garingging.

Sebelum upacara peletakan batu pertama dimulai, acara dibuka dengan pemberian sekapur sirih yang menjadi tradisi adat Simalungun, suatu tanda penghormatan dan permohonan keberkahan sebelum memulai segala pekerjaan penting.

Selama menyampaikan pidatonya, Bupati Simalungun, Dr. H. Anton Achmad Saragih mengungkapkan kegembiraannya atas terlaksananya momen tersebut. “Pada hari ini kita telah melaksanakan peletakan batu pertama, semoga pembangunan ini bisa selesai tahun ini”, ujarnya dengan semangat.

Bupati juga menekankan pentingnya mencatat sejarah masjid ini untuk diketahui oleh generasi mendatang. “Sejarah masjid ini yang sangat luar biasa perlu ditulis untuk sejarah anak-anak kita di kemudian hari”, tegasnya memberitahukan.

Kata-kata terima kasih juga dialirkannya kepada ahli waris dan yang telah mau mewakafkan tanah. “Untuk yang mewakafkan ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa, jarang ada yang mau mewakafkan tanah seluas ini”, ungkap Bupati Anton dengan penuh penghormatan.

Bupati juga mengajak semua pihak untuk terlibat dalam pembangunan masjid ini dengan niat kebersamaan. “Marilah sama-sama, kita membangun masjid ini bukan dari besar kecilnya yang diberikan tetapi niat kebersamaan, karena ini bukan menjadi milik pribadi tetapi milik kita bersama”, kata Bupati menyampaikan ajakan.

Tanpa melupakan pesan yang penuh kebijaksanaan, dalam kesempatan itu, Bupati juga mengemukakan harapannya agar masjid yang akan dibangun tersebut nantinya selalu ramai dikunjungi. “Masjid ini akan menjadi lebih besar, nah mengisi masjid ini nanti akan agak repot karena biasanya jemaah sholat Subuh hanya itu-itu saja orangnya, marilah kita ramaikan masjid kita ini”, ucap Bupati sambil membuat hadirin terhibur dan bersemangat.

Upacara yang penuh makna itu ditutup dengan acara makan bersama yang disebut “padalan surduk-surduk”, hidangan tradisional yang menjadi tanda kebersamaan dan kebahagiaan. Semua hadirin kemudian berfoto bersama untuk mengabadikan momen berharga ini, menandai awal dari sebuah bangunan yang nantinya akan menjadi pusat ibadah dan berkumpulnya umat di Pematang Raya. (Wendy Swastika).

Sumber: Dinas Kominfo Kabupaten Simalungun.

Trending Topic

Etnografi Reflektif

Etnografi Budaya Hewan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

[democracy id="2"]

Related news